Ku Tempuh Jalan Sunyi

Tengah Malam,
Lampu kuning redup diiringi alunan Moonlight Sonata menemaniku menari bersama pena hitam dalam secarcik lembaran polos. Berbekal rinduku untukmu, yang datang tiba-tiba bagai garis guntur tak beraturan, aku mewujudkanmu dalam batinku yang kosong sepeninggalmu. Biarlah malam ini hening, biar hanya aku yang bertasbih untuk terus mewujudkanmu menjadi ada. Paras ayu yang engkau abadikan dalam fikiranku telah pecundangi kelakianku, sungguh aku lemah.

Sesekali aku memandangi sudut ruang yang sedikit gelap, ya, aku dapati engkau masih tersenyum. Terpejamlah mata hatiku terbawa kesunyian ini, kesunyian yang memeluku menggantikanmu. Semakin trenyuh kala alunan khas Beethoven membawaku melangkah pada hadirmu ketika duduk di tepi senja. Aku belum menyerah, Aku akan terus mewujudkanmu menjadi Ada, meski pagi akan menamparku dengan seberkas kicauan burung dan sinar mentari.

Sepi ,
Alunan Silence mahakarya Beethoven yang semakin membawaku memberanikan diri untuk terus merayu Tuhan, berharap takdir ceritaku berubah. Mata batinku semakin erat memelukmu meski gundah semakin merajai fikiranku. Dengan pandangan yang kian sayu dan hati risau, pena terus mengukir doa-doaku untuk Tuhan. Alunan Silence pun diam, diiringi air mata, akhirnya aku menyerah menahan tangisku, tetes air mata yang terpaksa tiba kala kusadari Tuhan tak memilihku untuk menjagamu, Hati.

#DariHatiPecanduSepi-Ynr
Tengah Malam 01.00 WIB