sastra muda
Tangan Tuhan Yang Maha Lembut menyentuh segala prasangka untuk sebuah perasaan seorang hamba, Aku. Beribu detik yang ku lewati menaruh sejuta asa yang ku tulis dalam dinding peristiwa dalam notasi kehidupanku. Bahagia, tenang, sedih, hampa, ceria barangkali menjadi pemisah antar kata yang pernah terucap kala aku jatuh cinta pada sepi. Tatapan santun yang tertuju pada satu harapan pernah membawaku kembali merasakan aroma waktu yang terlewat. Satu firasat yang memutih mengharumkan segala sesal yang pernah merampas indahku. Bagaimana tidak, jalan yang ku tempuh dan ku harap akan membawaku meraba surga yang ku damba rapuh tergerus kebisuan. Kekasih, barangkali kamu adalah jawaban atas segala ketidakpastian ini. Mengindahlah tepat di nadiku !!!

Biarkan waktu melupakamu, dan Biarkan semesta mengabadikanmu !

Famorgana menjadi sebuah peristiwa paranoid yang menjatuhkan ragaku. Kata per kata yang tersusun atas kehendak perasaanku yang ku harap akan pecundangi ketiadaanmu, nyatanya kini hanya kebisuan yang hampa ditengah jejalnya kehidupan. Namun bagiku hadirmu bukan soal raga, raga sangat duniawi sedangkan hadirmu adalah keabadian. Semesta adalah sahabat terbaik bagi sepiku yang terbalut beribu kata kala senja tiba. Bayangan-bayangan apik yang kurasa sering kali tiba ketika memori itu mulai bercumbu dengan bisikan-bisikan yang terdengar di ruang hidupku.

Menimba segala kemungkinan yang akan terjadi menjadi tingkah laku terindahku ketika menuju-mu yang bagiku bukan soal raga belaka. Raga adalah materialis yang penuh dengan kepalsuan dan kebisingan sedangkan kamu memiliki kasta lebih dari itu. Bagiku kamu adalah suara, sentuhan dan wujud yang merampas segala sifat keduniawianku.
Tuhan, jika aku hanya hembusan angin yang dengan mudahnya Engkau arahkan kemanapun kehendak-Mu. Barangkali diatas semua itu ku sembahkan doa-doa yang selama ini terbisik dalam hatiku tentangnya. Lewatkan hembusanku dan rasukanlah aku kedalam sepi yang selama ini menghukumnya. Biarkan aku menjadi hakikat atas doa-doa dan air mata yang dia sengajakan untuk melukis wujudku.

Rinduku Terbalut waktu yang menua dalam sesal

Jika harus terulang dalam nyata yang sama, mungkin sejuta halaman tak akan kuasa menaruh kata-kata yang akan ku tulis tentang ini. Menulis tentang rindu yang hinggap dan abadi dalam satu ruang tentang seseorang yang dengan lembutnya menyentuh hatiku. Rindu ini bukan bias, rindu ini juga bukan dambaan kala sepi, rindu ini adalah kepastian yang menjelma dalam fikiranku sepanjang garis semesta. Sesal itu duniawi yang merajam segala harapan dan keyakinan tentang satunya rindu dan hakikat yang lama terpisah. Biar sesal berkiprah seperti seharusnya dan biarkan rindu ini melangkahkan keyakinannya seperti cahaya yang terus berjanji akan menerngi gelap.

Oleh Yanuar D. I

Kategori: Sastra