Punk & Ideologi (Do It Yourself)

punk dan ideologi punk

PUNK DAN IDEOLOGI “Do It Yourself”

Oleh Yanuar D. I

  • Surat Kabar Jalanan

Berbicara “PUNK” mungkin sebagian besar orang akan menuju pada pemikiran tentang anak-anak jalanan dengan gaya hidup yang bebas disertai perilaku arogansi dan gak pernah membenahi penampilan yang super cadas dan gak beraturan. Begitulah sedikit banyak persepsi orang tentang bagaimana eksistensi punk dalam lingkungan sosial. Di kota besar diberbagai negara pun tidak dapat dipungkiri bahwa image punk selalu identik dengan arogansi perilaku dan gaya hidup yang tidak beraturan. Punk sendiri mencakup dua hal yang bisa berarti genre musik dan juga ideology hidup yang mencakup aspek politik dan sosial.

Punk Pada Awal Mula

Di London Punk muncul sebagai subkultur yang lahir diluar bagian dari kelompok Skinhead. Namun sejak tahun 1980 saat punk mulai masuk ke Amerika, Punk dan Skinhead mulai menyatu karena memiliki semangat dan pasion yang sama. Hal ini diawali oleh golongan pekerja di Amerika saat tejadi krisis ekonomi karena kemrosotan moral para petinggi negaranya.  Sama halnya di Indonesia, musisi punk juga melakukan perlawanan dengan caranya sendiri. Banyak musisi punk di Indonesia yang melakukan perlawanan (control sosial) para petinggi Negara dengan lirik dan social movement yang mereka galang bersama fan base nya.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai kelompok perusuh yang berkeliran dijalanan tanpa aturan dan berperilaku arogan. Hal ini sebenarnya di lakukan oleh anak-anak punk itu sendiri yang merasa bahwa gaya hidup dan pemikiran mereka seolah adalah kebebasan yan mutlak. Kesalahpaham inilah yang merusak citra punk menjadi bagian kelompok yang dipandang sebelah mata serta dianggap sebagai kelompok yang tidak berkontribusi bagi siapapun terlebih bagi bangsa dan Negara.

Punk Adalah Gerakan Perlawanan Anak Muda

punk dan ideologi punk
Gambar Via Pixabay.com

Yang dinamakan gerakan perlawanan adalah suatu gerakan untuk mencari kebenaran yang dilakukan dengan cara nnya sendiri. Bagi yang memahami apa itu punk mungkin akan paham apa yang harus dilawan dan dengan cara apa untuk melawannya. Punk akan mengawal perlawanan itu dengan cara-cara yang mandiri yang lebih berenergi karena punk lebih banyak dibawa oleh anak anak muda.

“Manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni)” (Pavel Semenov).

Kutipan pendapat diatas memberi sedikit gambaran bahwa sebuah perlawanan terhadap keadaan sosial dan politik bisa dilaukan dengan membuat hal hal baru (seni). Seni memberikan kekuatan untuk menembus batas-batas kebiasaan hidup yang kaku dan mengarah pada hal pembenaran. Seni juga identik dengan pemikiran-pemikiran yang kritis serta gaya hidup yang tak biasa. Namun itu semua hanyalah bagian dari perlawanan terhadap masalah sosial dan politik yang tidan seperti seharusnya.

Bagiku, Punk Adalah Kemandirian

Bagi saya pribadi punk bukan sekedar musik dengan aliran keras dan gaya hidup yang bebas atau bahkan sering di cap sebagai kelompok perusuh. Itu sangat jauh dari eksistensi punk yang saya pahami sampai saat ini. Etika DIY (Do It Yourself) adalah bagian terpenting yang dimiliki oleh punk dan saya menganggap bahwa sisi istimewa punk adalah disini. Punk dengan segudang potensi yang dimiliki perlu dibawa oleh orang orang yang mengerti betul sisi perlawanan mana yang harus dilakukan. Saya ambil contoh kecil punk dalam sisi seni musik. Di Indonesia atau bahkan di dunia, band dengan aliran musik punk selalu mengambil jarak dengan major label. Hal ini sangat kontras jika kita melihat sisi ideologi dan kebebasan berekspresi seorang punker. Major label selalu melihat sisi karya seni dari kepentingan pasar musik, sedangkan ketika punk bermusik adalah bagian dari perlawanan atas kekecewaan adalam aspek politik dan sosial. Dengan sederhana dapat kita artikan bahwa major label memberi batas ekspresi atau bahkan pada kesempatan tertentu, major label di dikte oleh penguasa untuk tidak memberikan kesempatan publikasi terhadap anak-anak punk karena dianggap membahayakan.

Terlepas dari genre musik, punk menempatkan diri sebagai bagian dari kesederhanaan prinsip yang lebih mandiri dan peka terhadap keadaan lingkungan sekitar. Kepedulian punk terhadap lingkungan baik dalam aspek sosial maupun politik itu tanpa syarat artinya punk tidak punya kepentingan selain untuk kebenaran dan keadilan. Maka dari sinilah punk menyuarakan melalui musik dan karya-karya yang digunakan sebagai bagian dari perlawanan bagi siapapun mereka yang menindas hanya untuk kepentingan kelompoknya. Di Indonesia sudah banyak musisi Punk yang lahir membawa punk pada eksistensi punk yang sebenarnya dan mampu menunjukan bahwa dengan punk, mereka mampu berbuat dan berkontribusi. Jadi stop men-judge punk sebagai kelompok glue sniffer dan perusuh.

We Can Do It Ourselves !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *