Intuisi, Hati dan Nyali

Menjelang sore, tiba tiba aku ingat salah satu judul buku yang ditulis oleh Robert Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad. Sebelumnya Aku sudah memiliki buku sanggahan yang ditulis oleh John T. Reed. Kedua buku ini sangat bertentangan dimana buku kedua yang ditulis oleh John T. Reed memang ditulis untuk menentang teori yang dicetuskan oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad. Robert Kiyosaki adalah mentor bagi banyak orang yang menaruh ketertarikan terhadap kecerdasan finansial. 

Ketika aku berniat untuk memiliki buku Rich Dad Poor Dad, ternyata tidak tersedia di toko buku di daerahku. Namun tak disangka bahwa semesta menyudutkanku untuk bercinta dengan sebuah buku karya Robert Kiyosaki yang lain. Quadrant Cashflow, adalah salah satu buku yang ditulih oleh Robert Kiyosaki yang menurut aku ini adalah buku tentang motivasi sekaligus teknis terhadap kecerdasan finansial sehingga menaruh pada dua perhatian khusus yang sangat menarik. Aku harus membelinya !!! Adalah salah satu ungkapan hati yang mendesakku sesaat setelah membaca sinopsis buku ini. 

Tak ada alasan sedikitpun bagiku untuk tidak memiliki buku ini meskipun baru hari itu aku tahu bahwa ada buku Robert Kiyosaki yang juga tak kalah menarik. 

Dengan antusiasme yang tinggi, sesaat sampainya di rumah aku langsung membuka segel buku dan membacanya dengan penuh harapan. Banyak buku tentang keuangan tapi hanya sedikit yang menyertainya dengan motivasi pembunuh psimisme. 

Intuisi, Hati dan Nyali

Sampailah aku pada garis besar buku ini yang membuatku lebih yakin bahwa suatu saat nanti akan ada masa dimana aku memiliki kebebasan finansial seperti yang digaungkan Robert Kiyosaki. Intuisi, hati dan nyali. Sebuah keputusan besar akan sempurna ketika segala sesuatunya dititikberatkan pada apa yang disebut intuisi, hati dan nyali.

Robert Kiyosaki dan istri tercintanya, Kim, mengawali tulisan di buku ini dengan cerita masa lalu pada awal-awal usia 30 an mereka harus tidur di mobil tua dan tidak memiliki tempat tinggal. Adalah tunawisma yang mendadak menjadi triliuner dan motivator pada abad 21 yang menjadi “kiblat” bagi para pecandu harapan. Aku menaruh rasa hormat pada keberanian Kiyosaki yang mampu menerjang apapun yang menurut dia tidak sepantasnya dilakukan dalam jangka waktu lama meskipun itu adalah tradisi mindset pada era-nya, era industri. 

Kiyosaki selalu memberikan contoh prinsip pembanding dimana dalam bukunya yang lain ada tokoh Ayah Kaya dan Ayah Miskin. Ini adalah salah satu keseriusan yang ingin Kiyosaki tunjukan kepada siapapun orangnya bahwa penegasan-penegasan jangka panjang perlu di visualkan dalam sebuah pembuktian. 

Ayah miskin Kiyosaki adalah ayah yang berpendidikan tinggi dan bekerja pada pemerintah dengan gaji dan tunjangan yang besar namun pada akhir hidupnya harus menanggung utang dan hidup miskin. Sebaliknya Ayah kaya Kiyosaki adalah ayah yang berpendidikan biasa saja namun memiliki kecerdasan finansial yang baik sehingga semakin bertambah kesuksesannya sampai akhir hidupnya. Kedua ayah inilah yang membangun mindset Kiyosaki pada masa kecilnya. Meskipun begitu, Kiyosaki meyakini bahwa keputusan besar harus disertasi pengetahuan serta keyakinan terhadap pilihan.  Ya, kesuksesan dalam keputusan besar adalah perpaduan nyentrik antara Intuisi, hati dan nyali.